Jjaejaepeach

Lelaki itu melirik pada perempuan di sebelahnya.

“Mau makan bebek gak? Yang deket rumah sakit,” tanya Agam pada Ocean.

Perempuan itu mengangguk membuat Agam tersenyum seraya mengacak pelan rambutnya.

Ini merupakan hari jumat, dan sudah satu minggu sejak terakhir kali Ocean bertemu dengan Agam.

Suara musik terputar di dalam mobil itu. Suasana jalanan sore pun tidak telalu padat.

Sejak keberangkatannya dari rumah sakit, Agam tidak berhenti tersenyum senang karena ia akan menghabiskan waktunya dengan Ocean—kekasihnya.

Berbicara mengenai Agam, ia dan Ocean sudah berpacaran sejak Agam dan Ocean sama-sama berada di semester enam perkuliahan, dan sekarang mereka sudah lulus.

Agam merupakan mahasiswa kedokteran yang sekarang tengah menjalani coass. Sedangkan Ocean, yang dia lakukan sekarang hanyalah menulis novel sambil mencari-cari info mengenai beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya.

Hubungan Agam dan Ocean sangat baik, bahkan mereka jarang bertengkar. Entah mungkin karena Agam yang selalu sibuk dan Ocean yang sangat pengertian. Sehingga bagi mereka, bertengkat hanya akan menghabiskan tenaga saja.

Agam bersenandung mengikuti alunan lagu yang terputar, sambil sesekali menoleh pada Ocean.

Aneh

Sejak Agam menjemput Ocean, raut wajah perempuan itu terlihat tidak baik. Entah apa yang membuatnya seperti itu.

“Kamu gapapa?” Tanya Agam pada Ocean membuat perempuan itu menoleh.

“Aku?”

“Gapapa kok, emang kenapa?” Ocean balik bertanya.

“Gak sih, aku cuma ngerasa kamu kayak lagi ada masalah dari mukanya. Ada masalah apa?” Tanya Agam sambil fokus pada jalanan.

Ocean hanya menggeleng. “Gapapa kok,” jawabnya kemudian ia terkekeh.

Agam hanya menghela napasnya.

“Beneran?” Tanya Agam memastikan.

Lagi-lagi Ocean mengangguk. “Iya dong,” jawabnya tersenyum.

“Ada juga aku yang harus nanya.”Ocean melanjutkan ucapannya.

“Apa?” Tanya Agam.

“Kamu ada masalah nggak? Gimana harinya? Capek?”

Agam menoleh sekilas kemudian terkekeh. Tangan sebelah kirinya bergerak meraih pergelangan tangan Ocean kemudian mengenggamnya.

“Capek, apalagi minggu ini banyak banget pasien. Mana aku sempet kena marah sama konsulen gara-gara gak teliti dan gak bisa jawab pertanyaan, haha.”

“Terus-terus?”

Agam terkekeh. “Ya gitu, untung aja cuma dimarahin bentar, abis tuh aku disuruh belajar lagi katanya.”

Ocean tertawa. “Kok bisa kamu nggak bisa jawab? Aneh banget, biasanya kamu pinter.”

Agam mengangkat bahunya. “Gak tau, lagi gak fokus kayaknya waktu itu, tapi ya udahlah.”

Keduanya tertawa, kemudian jemari Ocean bergerak mengusap tangan besar yang mengenggamnya itu.

“Gapapa, prosesnya. Semangat sayang aku. Hari ini kita seneng-seneng aja, ok?” ucap Ocean membuat Agam mengangguk dan tersenyum.

Lalu tanpa aba-aba Ocean mengecup pipi Agam membuat Agam terkejut lantas tertawa.

“Kaget.”

“Haha, bonus soalnya Pak Dokter hari ini ganteng!” Jawab Ocean lalu sedetik kemudian keduanya kembali tertawa.

Memang benar, jika mereka ini jarang bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Namun setiap kali mereka bertemu, selalu ada hal yang bisa membuat mereka merasa tenang, nyaman dan hangat.

Dan Agam sangat suka percakapan-percakapan sederhana seperti ini. Singkat namun baginya sangat bermakna.

Hari demi hari berlalu, rasanya begitu cepat sebab sekarang Bumi sudah menginjakan kakinya di kelas tiga SMP dan sebentar lagi ia juga akan melaksanakan ujian tengah semester.

Memang waktu berjalan cepat, sampai-sampai Bumi tidak sadar jika ia harus segera memikirkan tentang apa yang perlu ia lakukan untuk masa depan.

Ah iya, karena sebentar lagi ujian tengah semester. Bumi bener-benar mati-matian belajar. Apalagi mengingat permintaan Clarissa, yang dimana dia selalu meminta Bumi untuk unggul dan setara dengan Azri.

Terkadang Bumi sangat lelah dengan semua itu. Sering kali ia menangis sendirian ketika belajar, sebab ia takut. Bumi takut jika dirinya kembali mengecewakan.

Meskipun Bumi benci ketika dirinya dibandingkan dan selalu diminta untuk bisa seperti Azri. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya Bumi pun ingin bisa seperti itu.

Selama ini Bumi banyak sekali menghabiskan waktunya untuk belajar, namun Bumi bersyujur setidaknya sekarang ia tidak terlalu kesepian karena Bumi punya Senjani, dan juga Janu.

Berbicara mengenai Janu, ia merupakan seorang murid laki-laki yang akrab dengan Bumi ketika pertama kali memasuki kelas tiga kemarin.

Di sekolah Bumi ini, setiap kali kenaikan kelas pada muridnya akan dipilih kembali secara acak. Dan hal itu yang membuat Bumi mempunyai teman baru yaitu Janu, tepatnya Januari Danuarta.

Semenjak kehadiran mereka, Bumi merasa jika sekarang ia banyak tertawa.

Bumi beruntung karena semesta sedang baik padanya. Ia mengirimkan Senjani disaat Bumi merasa sepi, dan juga mengirimkan Janu disaat ia merasa gagal waktu itu.

Meskipun kenyataannya Bumi masih belum lama berteman dengan Janu seperti ia yang lebih lama mengenal Senjani. Tetapi Bumi bersyukur, setidaknya sekarang ia tidak sendirian.

Dan meskipun waktu berjalan sangat cepat, Bumi berharap semoga nanti apapuj yang akan terjadi, ia tetap bisa melaluinya.

Mata lelaki itu bergerak memperhatikan setiap sudut yang ada di tempat itu. Pandangannya tak lepas dari lukisan-lukisan yang terpajang di sana.

Satu per satu ia amati dengan lekat. Dan pelan-pelan ia tersenyum.

Saat ini, Deva tengah berada di sebuah pameran lukisan yang diadakan oleh Zeya—seseorang yang masih Deva cintai.

Berbicara tentang Zeya. Sudah satu tahun lamanya ia tidak bertemu. Ah tidak, bahkan mungkin kebih dari satu tahun.

Sejak terakhir kali, dimana Zeya meminta untuk saling melupakan, mereka benar-benar melakukannya. Bahkan semua hal yang berhubungan dengan Deva terhenti begitu saja.

Semua sosial media yang tadinya berteman pun harus berakhir dengan pemblokiran.

Jujur saja, sampai sekarang Deva belum bisa melupakan Zeya. Yang ia lakukan hanya mencoba ikhlas.

Deva masih terlalu menyayangi Zeya, sampai terkadang ia rela mencari tahu tentang kabar Zeya dari orang-orang terdekatnya.

Hari ini, merupakan hari istimewa bagi perempuan itu. Dimana ia membuka sebuah pameran dari hasil lukisan yang ia buat. Maka dari itu Deva berinisiatif untuk datang.

Tidak, Deva tidak berharap akan kembali bersama Zeya, sebab ia tidak ingin membuatnya terluka untuk kesekian kali.

Langkah kaki Deva bergerak ketika mendengar suara Zeya berbicara dari sebuah microphone.

Langkahnya terhenti ketika melihat Zeya tengah berbicara di tengah kerumunan, menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan lukisannya.

Diam-diam Deva tersenyum dari kejauhan. Ia tidak berani mendekat.

Terlihat jelas oleh Deva, jika perempuannya itu sudah sangat baik-baik saja.

I’m so proud of you, Zey,” gumamnya sambil tersenyum tipis.

Deva menarik napasnya dalam.

Kenapa rasanya sesak?

Kenapa sangat sulit untuk melepas?

Yang tadinya sangat dekat, kini terasa sangat jauh. Bahkan untuk sekedar bertanya kabar pun terlalu segan.

Mata lelaki itu sangat fokus memperhatikan setiap gerakan dan ucapan yang dilakukan Zeya. Deva hanya berdiri di dekat tembok, takut jika Zeya tidak melihatnya.

Deva ikut tertawa ketika Zeya tertawa di sana.

Cantik, Zeya cantik sekali.

Deva sangat merindukan Zeya.

Dan kalau bisa, ia ingin sekali berlari dan memeluknya dengan erat. Namun alih-alih mengikuti egonya, Deva masih cukup waras dan tahu diri.

Di sisi lain, napas Zeya tercekat ketika ia tak sengaja melihat Deva tengah berdiri jauh di belakang sana.

Sesekali matanya memperhatikan Deva yang tengah menunduk dan menatapnya.

Pandangan mereka tiba-tiba saja bertemu, membuat Zeya yang tengah berbicara terdiam sejenak.

Deva menarik napasnya dalam, ketika menyadari jika tatapan Zeya barusan sangatlah asing.

Deva menunduk dan tersenyum tipis. “Beneran udah lupa …,” gumamnya.

Deva membuang napasnya kasar berusaha menahan sesak, kemudian ia berusaha tersenyum sangat lebar ketika mendengar jika Seya sudah berhasil melakukannya dengan baik.

Melihat Zeya dikelilingi orang baik benar-benar membuat Deva bersyukur.

Terlihat di sana, Zeya tengah tersenyum bangga, tanpa ingin kembali menoleh pada Deva.

Deva lagi-lagi hanya tersenyum, lantas ia menunduk dan kembali menatap Zeya lama, sebelum akhirnya Deva memutuskan untuj berbalik badan dan pergi dari sana.

Walau pun akhirnya menjadi asing, tapi setidaknya Deva tahu. Bahwa perempuan yang ia cintai sudah baik-baik saja.

Tidak banyak yang lelaki ini minta, ia hanya ingin melihat perempuannya ini sekali lagi. Sebelum akhirnya nanti ia benar-benar melupa.

Dengan berat hati, Deva melangkahkan kakinya dari sana, berharap jika setelah ini ia pun bisa melupa dan bahagia sama seperti Zeya.

“DEVANDRA!”

Langkah kaki Deva terhenti lantas kemudian ia menoleh.

Deva terpaku ketika melihat Zeya yang kini berdiri tak jauh darinya. Mereka saling menatap untuk beberapa saat.

“Apa kabar?” Tanya Zeya tersenyum tipis.

Deva terdiam. Mata mereka saling menatap. Terlihat sangat jelas jika keduanya sama-sama menahan tangisan. Lantas, tanpa aba-aba perempuan itu berlari, begitu juga dengan Deva ia berlari mengikis jarak dan kemudian saling memeluk.

Zeya memeluk Deva setelah sekian lama.

Erat, sangat erat.

I’m sorry,” gumam Zeya dalam pelukan itu.

Deva memeluk Zeya sangat erat, ia menyesap aroma tubuh yang sangat ia rindukan.

I miss you Zey, I miss you so much.”

Zeya menangis dalam pelukan itu, begitu juga debgan Deva. Sebab kenyataannya, mereka masih sama-sama saling menyayangi.

Mungkin, bagi sebagian orang cinta itu omong kosong. Tapi bagi sebagian orang juga, cinta itu nyata adanya.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk sekedar mengungkapkan perasaan.

Entah itu tindakan atau hanya perkataan.

Cinta itu luka sekaligus penyembuh.

Manusia bisa terluka karena cinta, tapi manusia juga bisa sembuh karena cinta.

Sama halnya seperti dua manusia ini.

Walau terkadang Deva terlalu banyak mengatakan cinta yang terlihat seperti omong kosong, namun jauh di dalam hatinya rasa cinta itu benar-benar sangat besar untuk Zeya.

Maka dari itu, yang Deva lakukan saat ini adalah memeluk Zeya erat seolah tidak ingin kehilangan lagi.

fin

Dengan setelan formalnya, lelaki itu berjalan menuju tempat dimana pembukaan akan berlangsung. Banyak sekali orang di sana.

Jujur saja, Deva tidak terbiasa untuk datang ke tempat seperti ini. Bahkan selama ini ia paling enggan berurusan dengan acara perkantoran. Namun karena permintaan sang Ibu mau tidak mau Deva harus menurutinya.

Lelaki itu datang ke acara pembukaan kantor cabang yang entah milik siapa. Ia bahkan tidak tahu perusahaan apa itu.

Deva datang bersama dengan Shabira, perempuan yang beberapa bulan terakhir ini dekat dengan dirinya sebab permintaan orang tua.

Deva menghela napasnya dalam ketika melihat banyak orang di dalam sana.

“Ayo masuk,” ucap Shabira pada Deva. Lelaki itu hanya mengangguk dan berjalan ke dalam.

Orang-orang di sini terlihat sangat berbeda dengan lingkungan kerja Deva, sangat berbeda.

Deva dan Shabira duduk di sebuah meja bertuliskan nama perusahaan milik Ayah Deva.

Mereka berdua disambut hangat membuat Deva dan Shabira tersenyum.

“Rame banget ya, Dev,” ucap Shabira membuat Deva mengangguk.

“Mau minum, gak? Aku ambilin,” tanya Shabira membuat Deva menggeleng.

“Gak usah Sha, nanti aja ngambil sendiri.”

“Yaudah, aku ngambil dulu dessert ya,”* ucap Shabira lagi lantas kemudian dirinya segera beranjak.

Deva menghela napasnya memperhatikan tubuh Shabira yang perlahan menghilang dari pandangannya. Matanya kemudian bergerak memperhatikan orang-orang di sekitar sana.

Awalnya tidak ada yang salah, hingga akhirnya pandangan Deva berhenti pada sosok perempuan yang tengah berjalan kesana-kemari sambil mengambil beberapa potret menggunakan kameranya.

Deva tertegun ketika melihat perempuan itu. Matanya bahkan tak lepas mengikuti pergerakannya.

Tanpa sadar tubuh Deva bergerak berdiri lantas berjalan mendekat dan mengikuti perempuan itu.

Jantungnya berdegup sangat kencang. Langkahnya bergerak cepat mengikuti kemana perempuan itu pergi.

“Zeya!” Teriaknya membuat perempuan itu menoleh ke belakang.

Keduanya sama-sama tertegun.

Tanpa sadar langkah kaki Deva bergerak mendekat.

“Zey …,” panggilnya lagi ketika dirinya kini berdiri tepat di hadapan perempuan itu.

“Dev …”

Demi apapun, Deva merindukannya, sangat.

Sorot matanya, bibirnya, hidungnya, dan semua hal yang ada pada perempuan itu Deva merindukannya.

Tanpa aba-aba Deva kemudian memeluk Zeya, membuat Zeya terpaku.

“Zey, I miss you,” lirihnya.

Zeya terdiam, ini terlalu tiba-tiba baginya. Setelah sekian lama, kenapa harus bertemu di sini?

Hatinya mencelos ketika Deva memeluknya.

Pelukan itu sangat erat, membuat Zeya berusaha melepaskan pelukannya.

“Dev … sorry,” ucap Zeya yang langsung membuat Deva melepaskan pelukannya dan sedikit menjauh.

“Maaf, maaf Zey,” ucapnya kemudian menunduk.

Hening beberapa saat, Zeya menunduk dan sesekali memperhatikan Deva yang tengah memainkan ujung lengan bajunya.

“Apa kabar?” tanya mereka berbarengan.

Deva tersenyum kaku, begitu juga dengan Zeya.

“Lo duluan,” ucap Zeya.

“Apa kabar, Zey?” Tanya Deva pada Zeya.

“Baik, lo gimana?”

Deva menatap Zeya sekilas. “Baik juga,” jawabnya kemudian tersenyum.

“Emh …”

“Lo, lo ke sini juga?” Tanya Zeya sedikit terbata-bata.

Deva mengangguk Lantas terlekeh pelan. “Iya di suruh Mama,” jawabnya membuat Zeya mengangguk.

Zeya kembali menundukkan kepalanya kemudian kakinya bergerak, berusaha menghilangkan rasa gugupnya.

“Udah berapa lama ya, Zey, kita gak ketemu? Dari mulai kita balikan sampai akhirnya udahan lagi, kayaknya baru kali ini kita ketemu lagi,” ucap Deva kemudian terkekeh.

“Haha iya, udah lama,” jawabnya.

“Lo kesini sama siapa?” Lagi, mereka kembali bertanya berbarengan.

“Haha,” Zeya tertawa begitu juga Deva.

“Lo sama siapa ke sini, Dev?” Tanya Zeya membuat Deva terdiam.

Zeya memperhatikan raut wajah Deva yang seketika berubah. “Sama calon lo, ya?” tanya Zeya lagi.

Zeya terkekeh. “Mana Dev calon, lo? Kenalin dong,” lagi, Zeya kembali berbicara sedangkan Deva hanya menggaruk kepalanya dan tersenyum kaku.

“Itu Zey anu emh …”

“Iya, gue ke sini sama Shabira.”

“Di suruh Mama,” lanjutnya.

Zeya hanya mengangguk.

“Lo sama siapa?”

“Gue?”

“Gue ke sini sama temennya Abang, Jarel,” ucap Zeya.

Jarel? Laki-laki yang selalu Zeya posting?

Pikir Deva.

Keduanya kembali terdiam. Entah kenapa tapi ini rasanya canggung sekali, padahal jauh di dalam lubuk hati Deva, banyak sekali hal yang ingin ia katakan pada Zeya, termasuk ia yang masih mencintainya.

“Emh, Zey …,” panggil Deva pelan.

“Iya Dev?”

“Asing banget ya kita sekarang, hehe.”

Zeya terdiam.

“Padahal Zey, banyak banget hal yang pengen gue bilang sama lo setelah sekian lama kita gak ketemu, tapi rasanya sulit banget, haha.”

Deva menghela napasnya. “Maaf ya tadi gue tiba-tiba meluk lo,” ucap Deva pada Zeya. “Dan tiba-tiba bilang kangen haha, sorry bikin lo gak nyaman.”

Deva menatap Zeya, kemudian entah keberanian dari mana Deva mengikis jaraknya dengan Zeya.

“Zey …”

“Gue gak bahagia …,” lirihnya menunduk.

“Setelah kehilangan lo, gue gak bahagia Zey.”

“Gue harus gimana?”

Zeya menatap Deva yang tengah menunduk.

“Lo bahagia gak, Zey?” Tanya Deva lagi yang kini mengalihkan pandangannya untuk menatap mata Zeya.

Mata mereka bertatapan satu sama lain, dalam sangat dalam.

Sial, Deva ternyata benar-benar merindukan perempuan ini.

Zeya menghela napasnya kemudian ia tersenyum.

“Gue bahagia Dev,” ucapnya membuat Deva terpaku.

“Apapun yang gue jalanin sekarang, gue selalu bahagia Dev,” jawabnya.

“Termasuk kehilangan kita, Zey?”

Zeya terdiam.

Deva terkekeh.

“Dev.”

“Kehilangan itu konsekuensi, kan? Lo gak perlu nanya apa gue bahagia atau enggak ketika kehilangan lo. Dan jawabannya pun lo pasti tau, kalo gue gak bahagia ketika kehilangan lo.”

“Tapi Dev, kalo ditanya. Apa sekarang gue bahagia? Jawabannya iya, Dev. Gue bahagia.”

“Gue bahagia karena gue udah bisa nerima semuanya, termasuk kehilangan lo,” jawab Zeya lagi membuat Deva menunduk.

Rasanya sesak sekali.

Zeya kembali menghela napasnya lantas tangannya bergerak mengusap pundak Deva dan ia tersenyum.

“Lo juga harus gitu, ya, Dev?”

“Zey …”

“Gue masih sayang sama lo.”

Zeya menatap Deva lembut. “Gue juga Dev.”

“Tapi jalannya udah beda, kan?”

“Zey …,”

Zeya menghela napasnya.

“Dev, acaranya mau di mulai, gue ke dalam dulu, ya? Lo juga gih, takut dicariin sama calon lo.”

Zeya tersenyum dan menepuk pundak Deva. “Gue duluan, ya,” ucap Zeya yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Deva.

Tubuh Deva berputar mengikuti arah kepergian perempuan itu, lantas ia menarik napasnya dalam berusaha melepaskan rasa sesaknya.

“Zey, perasaan gue buat lo masih sama …,” lirih Deva.

Benar saja Jarel datang menjempit Zeya dalam lima belas menit, tidak kurang dan tidak lebih.

Zeya hanya menggeleng, karena sejak ia mengenal Jarel, Zeya tahu, kalau lelaki ini tidak suka membuang waktu.

Sudah hampir dua bulan Zeya dan Jarel saling mengenal. Bahkan Zeya sendiri heran, kenapa bisa ia akrab secepat ini dengan Jarel.

Usia mereka terpaut lima tahun, Jarel merupakan teman kakak laki-laki Zeya. Tapi entah kenapa, sejak pertama Zeya mengenal Jarel, Zeya tidak pernah malu untuj menjunjukan dirinya sendiri. Dan mungkin hal itu juga yang membuat ia cepat akrab dengan Jarel.

Selain karena Zeya yang bersikap apa adanya, di sini pun Jarel sangat cepat beradaptasi dengan orang baru, ia bahkan pintar membaca situasi dan tentu saja sifat dia yang selalu memberi aura positif setiap kali bertemu Zeya.

Jujur, Jarel memang mengetahui Zeya dari sejak dia sering mengikuti Damar beberapa bulan kebelakang. Apalagi Damar yang akan selalu membagikan kebersamaannya dengan Zeya melalui sosial media, yang tentu saja membuat Jarel tahu, jika sahabatnya itu mempunyai seorang adik perempuan.

Mengingat Jarel tidak suka membuang waktu, maka ketika ada kesempatan ia pun tidak akan menyia-nyiakan. Walau ia pun tidak tahu akan berakhir seperti apa, tapi setidaknya sudah mencoba.

“Mbak, sundae strawberry satu sama yang cokelat satu ya,” ucap Jarel,

“Mau tambah apalagi?” Tanya lelaki itu pada Zeya.

“Udah itu aja,” jawab Zeya membuat Jarel mengangguk.

“Udah mbak itu aja katanya.”

Baik, untuk pembayarannya di depan ya kak, terima kasih

Mendengar itu, Jarel langsung melajukan kendaraannya untuk membayar dan menunggu pesanan mereka siap.

Sambil menunggu, Jarel menatap Zeya sekilas. Perempuan itu tengah fokus memainkan kuku jarinya.

“Anak muda galau,” tiba-tiba saja Jarel berbicara membuat Zeya menoleh dan berdecak.

“Berisik,” ucapnya membuat Jarel terkekeh.

“Yaudah galau aja, saya temenin. Mau denger playlist galau, gak?” Tanya Jarel membuat Zeya menatapnya.

“Gak usah dipancing!” Ketus Zeya yang lagi-lagi membuat Jarel terkekeh lantas menggeleng pelan melihat raut wajah Zeya.

Tak lama pesanan mereka selesai, Jarel langsung saja memberikannya pada Zeya, membuat perempuan itu sumringah.

“YEAY!”

Jarel menggeleng. “Makasih Mas,” ucapnya sebelum akhirnya pergi dari sana.

“Nih punya lo Kak,” ucap Zeya menyerahkan sundae rasa coklat pada Jarel.

“Pegang dulu, kita nyari tempat yang enak buat makan ini, masa saya sambil nyetir?”

Zeye seketika terkekeh. “Pinggirin aja deket alun-alun, hiasanya jam segini masih rame,” ucap Zeya membuat Jarel mengangguk.

Sambil berjalan, Zeya tersenyum sebab sudah lama sekali ia tidak membeli sundae rasa strawberry kesukaannya.

“Dah, sini punya saya,” ucap Jarel ketika baru saja memberhentikan mobilnya.

“Nih.”

Jarel hanya tersenyum lantas ia langsung saja memakan ice cream itu.

Diam-diam Jarel memperhatikan Zeya yang sepertinya tadi Zeya sudah menangis, sebab Jarel bisa melihat matanya yang sedikit sembab.

Just cry, gak ada yang salah. Don't pretend that you're okay, when you're actually not,” ucap Jarel membuat Zeya menatapnya.

Zeya tidak menyangkal, ia hanya menyerengeh dan menunjuk matanya. “Nih liat abis nangis,” ucapnya terkekeh.

Jarel hanya menggeleng pelan.

“Mau nangis lagi gak?” Tanya Jarel.

“Kok nanya gitu?”

“Siapa tau air matanya belum habis.”

“Barang kali mau dihabisin di sini sekarang.”

“Saya temenin.”

Zeya hanya tertawa pelan lantas menggeleng. “Udahan, nangis mulu capek. Mending makan ini,” balas Zeya membuat Jarel tersenyum dan kemudian mengacak rambut Zeya.

“Yaudah terserah. Saya temenin,” ucap Jarel.

Hening beberapa saat, sampai akhirnya Jarel berinisiatif memutar musik.

“Ah malah lagu galau,” sahut Zeya.

“Terserah saya dong,” ucap Jarel.

Jarel menatap Zeya dari samping, dalam, tatapannya sangat dalam.

“Zeya …,” panggilnya.

“Hmm?”

“Kamu boleh datang ke saya kalau memang kamu lagi gak baik. Entah itu karena kerjaan, karena kisah cinta kamu, atau karena hal lainnya. You can come to me.

Jarel terkekeh. “Kedengeran classic sih, tapi saya serius.”

You can lean your head on me, okay?

I won't ask anything about your sadness and I won't force you to tell everything if you really don't want to.

But please lean your head on me. Karena saya mau tahu sejahat apa dunia sama kamu.”

Zeya hanya terdiam menatap Jarel. Sedangkan Jarel tersenyum dan kemudian kembali mengacak pelan rambut Zeya.

“Udah, makan lagi tuh, cair nanti,” ucapnya terkekeh membuat Zeya mengalihkan fokusnya dan segera kembali menghabiskan sundae strawberrynya.

“Makasih,” ucap Zeya pelan.

“Buat?”

“Udah mau nemenin jajan ini, hehe …”

Jarel tersenyum.

“Sama-sama.”

Hanya terdengar suara samar klakson dari jalan raya malam ini. Lelaki itu memejamkan matanya sejenak, ketika beberapa saat yang lalu mengirimkan balasan pesan pada Mamanya.

Deva, lelaki itu menghela napasnya, matanya terbuka lantas ia menatap jalanan.

Mobil lelaki itu diam tak bergerak di pinggiran jalan, netranya lalu bergerak menatap sebuah gantungan foto kecil di depannya. Tangannya bergerak untuk melihat dengan jelas foto itu. Deva tersenyum kecil lalu jemarinya bergerak mengusap.

“Canrik …,” lirih Deva ketika melihat potret dirinya dengan Zeya.

Sesak, rasanya sesak sekali ketika mengingat jika sekarang ia sudah berpisah dengan Zeya.

Benar, yang dikatakan Zeya waktu itu benar. Semuanya terlalu tiba-tiba bagi mereka.

Katakan saja Deva lemah, sebab usahanya untuk mempertahankan Zeya kala itu selalu kalah.

Berada di posisi Deva ini sulit, bahkan lebih sulit dari dugaan siapapun.

Harus memilih antara mempertahankan perempuan yang ia cintai atau melawan permintaan perempuan yang sudah susah payah melahirkan dan merawatnya.

Berada di posisi Deva ini sulit. Apalagi ketika kala itu Deva dipaksa untuk meninggalkan Zeya dengan alasan bahagia.

”Hidup Mama sama Ayah gak lama lagi, Dev. Mama pengen yang terbaik buat kamu. Mama pengen lihat kamu hidup dengan wanita pilihan Mama, jadi nurut, ya, nak? Mama gak minta harta kamu, Mama gak minta hal lain selain ini. Jadi nurut ya, nak?

Sempat Deva menolak, namun malah berakhir dengan Mama yang menangis dan sakit.

Sungguh, kelemahan Deva itu adalah Mama. Ia sangat menyayangi Mama lebih dari apapun. Tapi di sisi lain ia juga menyayangi Zeya.

Deva hampir gila kala itu. Ia tidak ingin menyakiti keduanya, namun kenyataan ia harus memilih salah satu.

Berkali-kali Deva mengatakan jika yang ia cintai hanya Zeya, tapi lagi-lagi berakhir dengan penolakan dan restu yang tak kunjung diberikan.

Deva mengacak rambutnya frustasi, ia lelah. Tidak ada kagi sandaran untuknya sekarang.

Tanpa sadar Deva menangis, ia terlalu merindukan Zeya. Ia belum sempat memberikan banyak kebahagiaan untuk perempuan itu, sebab takdir lebih dulu memisahkan mereka.

Entah sadar atau tidak, tetapi saat ini Deva tengah mencari nama Zeya lalu tak lama ia segera menghubunginya.

Hening, hanya terdengar suara sambungan telepon menunggu si pemilik nomor mengangkatnya.

Satu kali.

Dua kali.

Tidak ada jawaban. Sampai akhirnya pada panggilan ke tiga pemilik nomor itu mengangkatnya.

Sial, suara ini yang Deva rindukan.

”Halo …,” ucapnya dari sebrang sana.

Deva hanya terdiam, rasa rindu, rasa sesak, serta rasa bersalah menyatu jadi satu.

Halo, Deva?”

Deva masih terdiam.

Kepencet kali ya? Dev? Gue tut—“

“Zey …,” Deva angkat suara sebelum Zeya menutup telepon itu.

“Gue kangen banget sama lo”

“Kangen banget sampe rasanya gue mau gila Zey.”

“Kosong banget disini, gue kesepian, hidup gue gak sehangat waktu sama lo.”

Hening, di sebrang sana Zeya tidak mengatakan sepatah kata apapun.

Deva terisak pelan, dadanya terlalu sesak.

“Capek Zey, gue capek banget.”

Deva terkekeh. “Kalo aja bisa, kalo aja boleh, rasanya gue pengen lari ke sana Zey buat sekedar minta pelukan lo sebentar aja,” ucap Deva.

“Gue masih pengen sama lo. Tapi kenapa harus kayak gini ya, Zey? Ke apa gue ahrus lepasin lo? Kenapa gue gak bisa mertahanin kita?”

“Zeya …”

“Masih banyak hal yang pengen gue lakuin sama lo, tapi gue ga