Jjaejaepeach

Ah, rasanya sudah lama sekali aku tidak menginjakkan kaki di tempat ini, tempat di mana aku tumbuh dan dibesarkan dengan sepenuh hati.

Banyak yang berubah, banyak hal baru yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Lantas aku baru menyadari. Ternyata aku sudah lama tidak pulang.

Seharusnya, rumah adalah tempat paling nyaman dan aman untuk melepas semua beban. Namun aneh sekali rasanya, beban yang aku pikul sendirian selama ini tak kunjung mereda meskipun aku pulang.

Berpikir bahwa sepertinya aku hanya akan ada di tempat ini untuk sejenak saja. Sebab dari lama, aku tidak bisa merasakan bahwa tempat pulangku ini menyenangkan.

Berpikir bahwa seharusnya aku tidak perlu pulang.

Aku ingin seperti orang lain, merasakan hangat saat mereka pulang. Namun aku tidak pernah merasakan itu.

Satu hari

Dua hari

Tiga hari berlalu

Aku akhirnya bertemu dengan teman-temanku yang memang sudah lama sekali tidak aku temui. Sejenak aku merasa senang, dan ada perasaan bersyukur aku pulang saat ini.

Awalnya tidak terpikir sama sekali olehku, jika setelah bertemu dengan teman-teman lamaku, beban yang tadinya masih terasa berat perlahan memudar.

Menyenangkan ternyata

Dan, dari sekian banyak orang yang aku temui kala itu, mungkin ini salah satu tanda dari Tuhan, jika aku harus bersyukur karena bisa pulang. Aku harus bersyukur karena ternyata ada yang menunggu kepulanganku.

Kamu, satu orang yang menjadi fokusku kala itu. Dan tanpa aku sangka, ternyata kehadiranku sudah kamu tunggu.

Katanya, sudah sejak lama pulangku dinantikan. Dan katanya lagi, sudah sejak lama perbincangan denganku diharapkan.

Aku yang sebelumnya ingin segera kembali, tiba-tiba saja merasa ingin berdiam diri saja di tempat ini lebih lama.Lebih lama dan bahkan tidak ingin kembali.

Kamu, salah satu ketidakmungkinan yang sempat aku langitkan kala itu, ternyata tanpa aku duga kamu melangitkan ketidakmungkinan yang sama denganku.

Perasaan yang semula kuncup perlahan merekah.

Lantas, seiring berjalannya waktu, aku dibuat jatuh cinta oleh kamu.

Menyenangkan bisa bertemu lagi. Menyenangkan bisa berbincang lagi dengan kamu.

Entah sudah berapa malam kuhabiskan hanya untuk berdiam diri dan berpikir.

Kapan perasaan seperti ini berakhir?

Mati, ternyata seiring berjalannya waktu, yang seharusnya tetap tumbuh justru perlahan mati. Padahal seingatku, hampir setiap hari aku coba siram itu supaya tetap tumbuh.

Perasaan dan cinta yang selama ini aku usahakan ternyata sia-sia. Sebab nyatanya perasaanku tak sehebat kamu.

Sial, padahal jauh di dalam lubuk hati, aku pun ingin mempertahankan namun memang kenyataanya aku payah.

Jalan yang kupikir akan dilalui begitu halus, nyatanya tidak. Terlalu banyak lubang yang akhirnya membuat aku jatuh hingga aku kesulitan untuk sampai ke tujuan.

Pikiranku terlalu dangkal, aku merasa di pejalanan ini aku sendirian.

Pegang, tolong genggam.

Aku ingin kamu genggam, tapi aku merasa genggamanmu tak seerat itu.

Goyah, hal yang sudah susah payah aku bangun sekarang mulai goyah, banyak retak kecil yang lambat-laun semakin besar dan lebar.

Kupikir dengan mengabaikan luka kecil yang semakin lama semakin banyak itu semua akan baik saja. Namun ternyata salah.

Perjalanan ini terlalu melelahkan. Terlalu melelahkan sebab kita sangat berantakan.

Perjalanan ini terlalu perih, sebab terlalu banyak luka kecil yang tergores.

Maaf seribu maaf, sebab aku tak sehebat kamu dalam hal mencintai.

Maaf seribu maaf, sebab perasaanku tak selapang kamu perihal memaafkan.

Maaf seribu maaf, sebab berjalan bersamaku tak menyenangkan.

Dan maaf seribu maaf, sebab akhirnya jalan buntu yang kita temui.

Selamat jalan, semoga dalam perjalananmu kali ini, selalu disertai perasaan menyenangkan.

Selamat jalan semoga kamu menemui jalan panjang.

Denting jam mulai terdengar. Ahh ternyata sudah pukul 2 dini hari.

Sunyi sekali seperti biasanya, hanya ada suara jangkrik yang sayup-sayup terdengar di telinga.

Pukul 2 dini hari, dan aku masih terjaga.

Isi kepalaku terlalu berat sampai-sampai saat berusaha memejamkan mata rasanya sulit.

Pukul 2 dini hari, dan aku masih terjaga.

Entah sudah berapa malam aku habiskan hanya untuk memutar segala peristiwa yang terjadi setiap hari.

Ini terlalu melelahkan. Aku terlalu banyak memikul beban.

Pukul 2 dini hari, dan aku masih terjaga.

Mataku memerah, sangat merah sampai membuatnya berair. Aku sungguh tidak tahan.

Aku menangis, aku tidak tahu malu, sebab setiap malam yang aku lakukan hanyalah mengutuk takdir. Takdir yang sudah jelas harus aku terima. Namun aku lupa diri dan malah meminta hal tidak sesuai dan melebihi porsiku.

Pukul 2 dini hari, dan aku masih terjaga.

Sial ternyata memang aku kurang bersyukur.

Kepalaku terlalu berisik dan menganggap semua kesulitan ini tidak bisa aku hadapi.

Payah, aku payah.

Aku lupa diri dan merasa jika aku adalah manusia paling sial.

Aku lupa diri dan merasa jika beban yang kupikul ini bukan tanggung jawabku, tapi kenyataannya memang tanggung jawabku.

Dulu aku pikir jadi dewasa itu menyenangkan, ternyata setelah beranjak dewasa, semua hal yang aku bayangkan tidak semudah itu untuk aku gapai.

Aku terlalu takut, rasa takutku terlalu besar sampai rasanya aku selalu tertinggal dari orang-orang sekitar.

Pukul 2 dini hari, dan aku masih terjaga.

Semoga esok hari, semua hal baik-baik saja.

Hiruk pipuk kota membuat perempuan ini akhirnya memilih untuk menenangkan kepalanya di sebuah coffe shop yang tak jauh dari tempatnya bekerja. Perempuan itu memilih untuk singgah di tempat yang menurutnya nyaman dan tidak cukup ramai.

​Kepalanya terasa sangat berat, sampai tadi saat bekerja ia merasa kepalanya seperti tertimpa batu besar. Benar-benar melelahkan.

​Suara helaan napas terdengar, jemari kecil itu bergerak membuka sebuah tas berisikan beberapa dokumen, laptop dan juga buku diary yang sejak dulu selalu ia bawa kemana pun. ​Senjani—perempuan itu yang kini tengah berusaha menenangkan riuhnya isi pikirannya.

​Lagi, suara helaan napas terdengar sangat berat. Entah kenapa ia merasa jika hari ini terasa sangat berat. Bahkan sejak semalam ia terus saja menangis, samai-sampai saat ia datang ke tempat dirinya bekerja, rekan kerjanya bertanya soal mata Senjani yang terlihat sembab.

​Iya, Senjani menangis semalaman sebab ia sedang merasa rindu pada seseorang yang sangat ia cintai—Bumi. ​Rasa rindu ini ternyata bisa sangat menganggu dan membuat harinya terasa berat.

​Setelah kepergian Bumi, sepertinya Senjani sudah mulai berteman dengan rasa rindu yang entah akan sampai kapan hilangnya.

​Senjani saat ini tengah duduk di meja halaman belakang coffe shop itu. Hembusan angisn terasa mamasuki pori-pori kulitnya, sejuk.

​Mata Senjani bergerak, ia menatap langit malam, tidak ada Bintang hanya terlihat bulan. ​Senjani memejamkan matanya sejenak, kemudian tak lama jemarinya bergerak membuka sebuah buku yang sejak dulu selalu ia bawa kemanapun.

Perlahan ia membuat buku itu, ia membaca setiap halaman Dimana di sana terdapat coretan-coretan tangannya. ​Sebuah senyuman terbentuk ketika ia membaca tulisan-tulisannya yang sejak dulu sengaja ia tuangkan di sana sebagai bentuk curahan hatinya.

​Ternyata Senjani benar-benar mencintai Bumi sedalam itu, sebab di dalam buku itu tertuang semua hal perihal Bumi, dari mulai pertama kali ia tak sengaja bertemu dengan Bumi di dalam bus sekolah, sampai detik-detik terakhir curahan hatinya sebelum ia kehilangan Bumi.

​Senyuman yang tadinya merekah perlahan pudar ketika ia membaca isi tulisannya perihal ia yang harus bersiap kehilangan Bumi.

​Rasa sesak kembali menyeruak, perlahan air matanya keluar, ia menunduk kemudian ia menangis.

​Tangannya masih bergekar membuka setiap halaman yang ada di sana, sampai akhirnya ia membuat lembaran baru yang terlihat masih kosong. Senjani terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia memilih untuk menuliskan sesuatu di halaman kosong itu.

​Perlu waktu yang cukup lama untuk ia menuangkan perasaannya ke dalam sebuah tulisan itu. Senjani berusaha mehan rasa sesak, sampai akhirnya ia berhasil menuangkan perasannya ke dalam tulisan itu.

​Baru saja ia selesai menulis dan menutup buku itu, ia dikagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba saja datang dan duduk di kursi kosong di hadapannya. Senjani terdiam sejenak. Ia sangat mengenal siapa yang menghampirinya saat ini.

Dengam tergesa-gesa, Johan melajukan mobilnya kencang menuju rumah setelah sebelumnya ia mendapati pesan dari putra sulungnya.

Perjalanan yang seharusnya memakan waktu dua puluh menit kini hanya sepuluh menit ia tempuh.

Pakaian yang Johan kenakan bahkan sudah tidak karuan, kemeja yang kusut, dasi yang tak rapi serta jas yang sebelumnya ia pakai pun entah ia simpan di mana. Rambutnya sangat berantakan.

Dengan langkahnya yang cepat, ia segera masuk ke dalam rumah. Baru saja ia membuka pintu, sudah terdengan suara barang pecah.

“Mama udah!” Terdengar suara teriakan dari arah dapur, lelaki itu pun segera menghampiri. Lantas, tanpa basa-basi ia pun segera berlari menuju suara.

“BAJINGAN, BRENGSEK!” Teriak seorang perempuan yaitu Clarissa.

“MAMA STOP!” Teriak Azri di hadapan perempuan itu yang sedang berusaha untuk melemparkan sesuatu di genggamannya.

Tanpa pikir panjang Johan lari menuju keduanya, tidak peduli jika pecahan kaca berserakan di lantai.

Johan memeluk Clarissa yang tengah berusaha melempar gelas di genggamannya, ia peluk Clarissa erat membuat perempuan itu berteriak dan memberontak.

“LEPASIN!”

“Mama udah Mama,” di hapadannya ada Azri yang juga berusaha menenangkan Clarissa.

“BAJINGAN KAMU, GARA-GARA KAMU HIDUP SAYA BERANTAKAN!” Teriak Clarissa entah pada siapa.

“Kak, bawa gelas di tangan Mama,” ucap Johan membuat Azri mengangguk dan segera merampas benda yang wanita itu genggam.

Clarissa semakin memberontak, Johan semakin erat memeluk.

“Sa, Udah. Tenang, aku di sini …”

Suara tangisan terdengar sangat kencang.

“Hancur, hidup aku hancur,” ucap Clarissa menangis.

“Gara-gara dia hidup aku hancur. HIDUP AKU BERANTAKAN!” Teriaknya lagi memberontak.

Azri yang semula hanya berdiri ikut memeluk erat Clarissa bersama dengan Johan.

“Mama tenang, Ma. Ini Kakak sama Papa, Mama tenang ya, Ma ..” ucap Azri berusaha menenangkan.

“Sayang udah …” ucap Johan lembut.

Tangisan Clarissa yang semula terdengar kencang perlahan mengecil.

“Bumi, aku mau ketemu Bumi ….” Lirih Clarissa.

“Maaf, maafin Mama …” ucapnya lagi.

Sakit, ini sakit sekali. Johan dan Azri hanya bisa memeluk dan berusaha menenangkan Clarissa dengan lembut, sebab jika mereka berteriak, Clarissa akan semakin mengamuk.

Dada Azri terasa sangat sesak menyaksikan hal ini. Sebab tak lama sejak kepergian Bumi, emosi Clarissa jadi tidak terkendali seperti ini. Bahkan tak lama sejak kepergian Bumi, Clarissa sempat di bawa ke rumah sakit jiwa dan berakhir di rawat inap selama dua bulan lamanya.

“Gara-gara dia Mas, gara-gara dia hidup aku hancur …,” lagi, Clarissa berucap.

“Iya Sa, udah semuanya udah selesai udah berakhir, ada